KHUTBAH JUMAT : Menyambut Hari Raya Idul Adha Penuh Makna
KHUTBAH JUMAT : Menyambut Hari Raya Idul Adha Penuh Makna
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Puja dan Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Swt yang
telah memberikan kenikmatan kepada kita sangat banyak sehingga kita
sendiri tidak akan mampu menghitung nikmat-nikmat itu. Karenanya dalam
konteks nikmat, Allah Swt tidak memerintahkan kita untuk menghitung tapi
mensyukurinya.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad Saw,
beserta keluarga, sahabat dan para pengikut setia serta para penerus
dakwahnya hingga hari kiamat nanti.
Jama’ah Jum’at yang Berbahagia
Sebentar lagi, Hari Raya Idul Adha 1433 H akan tiba. Suara takbir dan
tahmid pun akan terdengar merdu dan indah dari berbagai pelosok
nusantara sampai belahan dunia sebagai pernyataan dan pengakuan terhadap
keagungan Allah SWT.
Takbir yang diucapkan bukanlah sekedar gerak bibir tanpa arti, tetapi
merupakan pengakuan dari dalam hati, menyentuh dan menggetarkan
relung-relung jiwa manusia yang beriman. Paginya seluruh Umat Islam di
penjuru dunia berbondong-bondong untuk melaksanakan dua rakaat shalat
sunah, yaitu shalat Id. Yang kemudian akan dilanjutkan dengan acara
silaturahim antar sanak-famili dan handai taulan.
Suasana yang dirasakan pada hari raya Idul Adha tentunya berbeda dengan
perayaan hari raya Idul Fitri yang kita rayakan sebelumnya. Perbedaannya
itu adalah karena Idul Adha memiliki nilai historis yang begitu
mendalam. Idul Adha atau yang sering kita kenal dengan Idul Kurban,
mengingatkan kepada kita bagaimana proses perjuangan yang dilakukan oleh
Nabi Allah Ibrahim as.
Dimana nabi Ibrahim mendapatkan wahyu untuk menyembelih putranya
sendiri, yang bernama Ismail as, putra yang ditunggu-tunggu selama
bertahun-tahun. Di sinilah nabi Ibrahim dituntut untuk memilih antara
melaksanakan perintah Tuhan atau mempertahankan buah hati yang
dicintainya, sebuah pilihan yang cukup dilematis.
Namun karena ketakwaan dan kecintaan nya kepada sang Kholiq melebihi
segalanya, maka perintah tersebut beliau laksanakan juga, walau pada
akhirnya nabi Ismail as digantikan dengan seekor hewan kurban.
Dari sini kita mendapatkan pelajaran yang sangat bermakna bahwa untuk
mendapatkan kebahagiaan dan keberhasilan di dalam kehidupan dunia dan di
akhirat nanti kita harus rela berkorban. Makna berkorban adalah
memberikan sesuatu untuk menunjukkan kecintaan kepada orang lain,
meskipun harus menderita. Orang lain itu bisa anak, orang tua, keluarga,
saudara sebangsa dan setanah air.
Ada pula pengorbanan yang ditunjukkan kepada agama yang berarti untuk
Allah SWT dan inilah pengorbanan yang tinggi nilainya sebagaimana yang
telah dipraktekkan oleh Nabiyulloh Ibrahim as sehingga beliau
mendapatkan predikat Kholilulloh (kekasih Allah SWT), karena telah mampu
mengorbankan sesuatu yang dicintainya yang berupa anak , demi mencapai
kecintaan kepada Allah SWT. Ini sesuai dengan firman Allah SWT yang
artinya :
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum
kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang
kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran :
92).
Sidang Jama’ah Jum’at yang Berbahagia
Peristiwa di atas adalah menjadi titik awal dianjurkannya perintah untuk berkurban bagi
umat Islam, terutama bagi orang yang mampu. Maka dengan adanya perintah
berkurban tersebut, kita sebagai umat muslim dituntut untuk tidak hanya
melaksanakan ritual keagamaan semata, atau tidak hanya sekedar
melaksanakan perintah Tuhan, akan tetapi kita juga diberi kesempatan
untuk memanifestasikan rasa solidaritas kita kepada sesama.
Dengan cara membagi-bagikan daging kurban kepada fakir miskin dan kaum
dhuafa di sekitar tempat tinggal kita. Artinya daging kurban tersebut
tidak hanya dinikmati oleh saudara atau orang terdekatnya saja. tetapi
benar-benar dinikmati oleh orang-orang yang membutuhkan. Orang yang
sehari-harinya makan daging adalah makanan yang langka bagi mereka.
Idul Adha yang menjadi momentum sejarah telah mengajak umat Islam kepada
pola kehidupan sosial yang agamis dengan membangun kekuatan
spritualitas diri yang tinggi yang terbentuk dalam bentuk pengabdian
yang tulus akan perintah-perintah Allah swt, demi kemaslahatan dan
kebersamaan di antara umat Islam.
Di sisi lain, sejarah Hari Raya Kurban juga mengingatkan kepada kita
Bahwa kehidupan ini tidak kekal, dan banyak hal yang terjadi secara
tiba-tiba di luar perkiraan kita. Kadang, kita dapatkan dalam kehidupan
dunia ini hal-hal yang kita cintai justru malah cepat pergi dari kita,
sebaliknya hal-hal yang kita benci malah datang terus kepada kita.
Maka Allah menyebut kesenangan dunia ini dengan kesenangan yang menipu (
mata’u al ghurur ), karena akan sirna bahkan berubah menjadi
malapetaka, jika cara mengolahnya tidak sesuai tuntunan Allah swt. Allah
swt berfirman yang artinya sebagai berikut :
“Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian
tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian
menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan
dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain
hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS Al Hadid: 20)
Tetapi perlu diingat juga bahwa tidak setiap perkara yang kita benci
pasti membawa mudharat bagi kehidupan kita. Terkadang yang terjadi
adalah sebaliknya, musibah yang kita anggap akan mendatangkan
malapetaka, ternyata malah membawa kita kepada kesuksesan besar di dalam
hidup ini. Kita lihat umpamanya, yang dialami oleh nabi Ibrahim as,
ketika diperintahkan Allah swt untuk meninggalkan istri dan anaknya yang
masih kecil di tengah padang pasir, yang tidak ada tumbuh-tumbuhan dan
air.
Kaum Muslimin yang Dirahmati Allah
Sebagai manusia, tentunya nabi Ibrahim tidak ingin mengerjakan hal
tersebut kalau bukan karena perintah Allah swt. Sesuatu yang tidak
dikehendaki nabi Ibrahim tersebut, ternyata telah menjelma menjadi
sebuah ibadah haji yang di kemudian hari akan diikuti berjuta –juta
manusia, dan dari peristiwa itu juga, keluarlah air zamzam yang dapat
menghidupi jutaan orang dan bisa menyembuhkan berbagai penyakit.
Begitu juga, ketika nabi Ibrahim as. diperintahkan untuk menyembelih
anaknya Ismail, yang sangat dicintainya. Setiap orang yang masih
mempunyai hati nurani yang sehat, tentu sangat tidak senang jika
diperintahkan menyembelih anaknya sendiri. Tapi apa akibatnya ? Ketika
kedua-duanya pasrah, Allah membatalkan perintah tersebut dan
menggantikannya dengan kambing.
Dari peristiwa ini, akhirnya umat Islam diperintahkan untuk berkurban
setiap datang hari raya Idul Adha. Memang, kadang sesuatu yang kita
benci, justru adalah kebaikan bagi kita sendiri. Allah berfirman :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan
boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah : 216)
Oleh karenanya, di dalam menghadapi ujian kehidupan dunia ini, kita haru
sabar dan tawakal, serta menyerahkan diri kepada Allah swt, sebagaimana
yang dicontohkan nabi Ibrahim ketika diperintahkan untuk menyembelih
anaknya sendiri.
Semoga dengan khutbah diatas, iman kita selaku hamba Allah bias semakin
tebal dan semakin mendekatkan diri kepadaNya. Peristiwa yang dialami
Nabi Ibrahim As diharapkan bisa membuat kita selalu ingat semuaperintah
Allah dan menjauhi segala laranganNya. Amin Yaa Robbal Alamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar